PERJALANAN
PAMUNGKAS
Perjalanan panjang telah terlalui. Segala pahit getir telah
kuhadapi, segala kesenangan telah aku muntahkan. Dan kini, tibalah aku di
sanggar pamungkas, tempat segala yang tertumpah mengalir, menyatu dalam aliran
waktu yang tak henti.
Dari anak yang berlari dalam riang, menjadi remaja yang
mengalir dalam gelora, hingga menua dalam perputaran takdir. Semua itu adalah
rangkaian, seperti aliran air yang tak pernah putus, mengalir dari hulu ke
hilir, lalu kembali ke asalnya, dalam lingkaran yang abadi.
Dalam sela-sela garu, di antara jejak yang tertinggal, duduk diam. Di sanggar pamujan adalah tempat
perhentian, tapi bukan akhir. Kedaton, yang dianggap sebagai titik puncak,
nyatanya hanyalah gerbang menuju perubahan. Perubahan yang ginaris, yang tak
terhenti, seperti ombak yang tak pernah lelah mencumbu pantai.
Duh Gusti.... kami tak pernah berharap dalam kekuasaan, tak terpikat oleh
gemerlap kemewahan. Hanya ada satu yang kami inginkan berikanlah kepasrahan
yang sejati, ketulusan dalam lautan darma. Pangestu kasih sayang menjadi pelita
yang menuntun, menjadi benang halus yang menghubungkan perjalanan ini dengan
yang tak berujung.
Maka aku berserah. Dalam diam, aku mengerti. Dalam pasrah,
aku menemukan awal yang sejati. Duduk sila dalam manunggal mituhu dawuh Panjenengan kang Agung
Kiwul 050325